Rany Dwi Cahyaningtyas atau biasa dipanggil
rany. Aku ini merupakan seorang mahasiswi dari sebuah Institut Agama Islam yang
ada di surabaya. Tahun ini, dewi fortune sedang ada di pihakku. Mengapa
demikian? Ya, beberapa bulan lalu aku mengikuti tes seleksi bersama peguruan tinggi negeri (SBMPTN) dan alhasil
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel (IAIN SA) Surabaya Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI)
telah menerimaku sebagai salah satu mahasiswinya.
![]() |
| Kartu Tanda Mahasiswa saat masih IAIN Sunan Ampel |
Bisa di bilang, PGMI merupakan prodi yang terbentuk paling muda di bandingkan 5 prodi yang ada di FITK ini. 5 prodi lainnya yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Matematika (PMT) dan Kependidikan Islam (KI). Di dalam prodi PGMI, bangku kuliah mayoritas di isi oleh para mahasiswi. Untuk angkatan 2013 ini, hanya ada 10 mahasiswa.
Seperti layaknya masa SMA dulu, di
perguruan tinggi pun selalu ada yang namanya orientasi mahasiswa. Orientasi Cinta
Akademik & Almamater (OSCAAR) selalu di adakan tiap tahunnya oleh IAIN
Sunan Ampel. OSCAAR dari Institut dan fakultas berlangsung 3 hari. Untuk
orientasi dari jurusan di lakukan 3 hari setelahnya.
Tahun ini, IAIN Sunan Ampel telah
resmi menjadi UIN sejak launchingnya pada 4 desember 2013. Dengan bergantinya IAIN menjadi
UIN ini adalah suatu kebanggaan tersendiri. Di UIN ini, sebutan bagi tiap kelas
adalah komosariat kelas biasa di singkat KOSMA. Untuk semester awal, aku masuk
di KOSMA C atau kelas C. Awal masuk kelas ini, aku melihat wajah salah seorang
temanku SMP dulu. Ya, itulah teman pertamaku di UIN. Aku adalah satu-satunya
alumni SMA Negeri 1 Jetis Ponorogo yang di terima di UIN. Karena teman SMA ku
tidak ada yang berniat daftar di UIN ini. Entah, mungkin karena Universitas
Islam dan tidak ada yang berminat. Bisa di bilang melenceng juga jika dari
Sekolah Umum masuk ke Universitas Islam, itulah yang aku rasakan saat ini.
Mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan memulainya dari nol.
Seringkali, aku merasa kesulitan jika
ada mata kuliah tentang pendalaman islam. Kata-kata asing sering mampir di
telingaku, mungkin karena pengetahuanku mengenai islam bisa di bilang masih
minim. Namun, ini adalah motivasiku untuk lebih menggali islam secara lebih dalam.
Lama-kelamaan, aku mulai bisa memperbaiki akhlak ku menjadi yang lebih baik
dari sebelumnya. Perubahan positif ini membuat orangtuaku semakin bangga
terhadapku.
Kedua orangtuaku mengarahkan aku agar
menjadi seorang pendidik. Dan sebelumnya mereka tidak pernah menyangka bila
pada akhirnya aku akan menjadi seorang guru MI. Walau ada beberapa dosen yang
bilang jika menjadi guru MI itu memerlukan banyak pengorbanan dan pengabdian.
Namun, hal tersebut tidak meruntuhkan niatku yang mulai kuat untuk menjadi guru
MI. Aku ingat nasehat salah seorang guru di SMA ku dulu “kuliah itu,
mendapatkan ilmu apa bukan menjadi apa setelah kuliah”. inilah step awalku
untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. 4 tahun ke depan, aku
ingin mengabdi di sekolah MI yang berada di ponorogo karena aku merasa berhutang
budi pada kabupaten ini. 3 tahun lalu, di kabupaten inilah aku mendapatkan
pelajaran akan pentingnya hidup. Jika kelak, dewi fortune menghampiriku lagi,
aku ingin menjadi seorang Pegawai Negeri yang mengabdi di kabupaten Ponorogo
tercinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar