Total Tayangan Halaman

Kamis, 12 Desember 2013

Now and Four Years Again


Rany Dwi Cahyaningtyas atau biasa dipanggil rany. Aku ini merupakan seorang mahasiswi dari sebuah Institut Agama Islam yang ada di surabaya. Tahun ini, dewi fortune sedang ada di pihakku. Mengapa demikian? Ya, beberapa bulan lalu aku mengikuti tes seleksi bersama peguruan tinggi negeri (SBMPTN) dan alhasil Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel (IAIN SA) Surabaya Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) telah menerimaku sebagai salah satu mahasiswinya.
Kartu Tanda Mahasiswa saat masih IAIN Sunan Ampel

Bisa di bilang, PGMI merupakan prodi yang terbentuk paling muda di bandingkan 5 prodi yang ada di FITK ini. 5 prodi lainnya yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Matematika (PMT) dan Kependidikan Islam (KI). Di dalam prodi PGMI, bangku kuliah mayoritas di isi oleh para mahasiswi. Untuk angkatan 2013 ini, hanya ada 10 mahasiswa.
Seperti layaknya masa SMA dulu, di perguruan tinggi pun selalu ada yang namanya orientasi mahasiswa. Orientasi Cinta Akademik & Almamater (OSCAAR) selalu di adakan tiap tahunnya oleh IAIN Sunan Ampel. OSCAAR dari Institut dan fakultas berlangsung 3 hari. Untuk orientasi dari jurusan di lakukan 3 hari setelahnya.
Tahun ini, IAIN Sunan Ampel telah resmi menjadi UIN sejak launchingnya pada 4 desember 2013. Dengan bergantinya IAIN menjadi UIN ini adalah suatu kebanggaan tersendiri. Di UIN ini, sebutan bagi tiap kelas adalah komosariat kelas biasa di singkat KOSMA. Untuk semester awal, aku masuk di KOSMA C atau kelas C. Awal masuk kelas ini, aku melihat wajah salah seorang temanku SMP dulu. Ya, itulah teman pertamaku di UIN. Aku adalah satu-satunya alumni SMA Negeri 1 Jetis Ponorogo yang di terima di UIN. Karena teman SMA ku tidak ada yang berniat daftar di UIN ini. Entah, mungkin karena Universitas Islam dan tidak ada yang berminat. Bisa di bilang melenceng juga jika dari Sekolah Umum masuk ke Universitas Islam, itulah yang aku rasakan saat ini. Mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan memulainya dari nol.
Seringkali, aku merasa kesulitan jika ada mata kuliah tentang pendalaman islam. Kata-kata asing sering mampir di telingaku, mungkin karena pengetahuanku mengenai islam bisa di bilang masih minim. Namun, ini adalah motivasiku untuk lebih menggali islam secara lebih dalam. Lama-kelamaan, aku mulai bisa memperbaiki akhlak ku menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan positif ini membuat orangtuaku semakin bangga terhadapku.
Kedua orangtuaku mengarahkan aku agar menjadi seorang pendidik. Dan sebelumnya mereka tidak pernah menyangka bila pada akhirnya aku akan menjadi seorang guru MI. Walau ada beberapa dosen yang bilang jika menjadi guru MI itu memerlukan banyak pengorbanan dan pengabdian. Namun, hal tersebut tidak meruntuhkan niatku yang mulai kuat untuk menjadi guru MI. Aku ingat nasehat salah seorang guru di SMA ku dulu “kuliah itu, mendapatkan ilmu apa bukan menjadi apa setelah kuliah”. inilah step awalku untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. 4 tahun ke depan, aku ingin mengabdi di sekolah MI yang berada di ponorogo karena aku merasa berhutang budi pada kabupaten ini. 3 tahun lalu, di kabupaten inilah aku mendapatkan pelajaran akan pentingnya hidup. Jika kelak, dewi fortune menghampiriku lagi, aku ingin menjadi seorang Pegawai Negeri yang mengabdi di kabupaten Ponorogo tercinta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar